Rabu, 09 Mei 2018

Akibat tidak pernah senyum (Cerita singkat)


Haloo... para pembaca untuk blog berdasarkan pengalaman ini, kali ini aku khususkan untuk pengalaman yang dialami oleh aku sendiri atau cerita dari teman-teman sekitarku. And, this is postingan pertamaku.
Dulu, dan dulu banget waktu aku masih duduk di sekolah menengah pertama sekitar tahun 2009an, aku punya musuh. Eit.. but, aku gak nganggap dia musuh aku sama sekali kok hanya saja judulnya, hehe. Aku jadi kayak sekarang ya  karena aku belajar dari dia. Iya karena dia aku belajar bahwa karma itu memang ada, aku belajar jadi orang yang sabar dan belajar gimana harus senyum.
Iya dari judulnya memang benar ada akibat dari muka yang tidak pernah tersenyum sama sekali hehe. Kenapa aku bilang begitu? Iyaa karena aku dulu manusia yang tidak pernah tersenyum, meskipun kondisi dan dalam keadaan bahagia, setelah itu yaa berjalan kemanapun aku tetap gak pernah senyum. Aku sadar ketika aku disadarkan, iyaa dari musuh tersebut. Ceritanya klasik banget ya, iyalah ini aja cerita dari tahun 2009an ini sekarang aja udah tahun dimana aku sudah seharusnya menikah.. wkwkwk
Awal ceritanya, aku dulu merupakan siswa, yaaaa dibilang gak bego-bego amat, gak pintar-pintar amat, iyaa kalau udah kenaikan kelas untuk masuk di 3 besar selalu lah kalau nggak 2 ya 1 (sombong) hehe, nggak bukan itu masalahnya sekarang, kebetulan waktu naik ke kelas 3 ya aku dapat peringkat 1 dikelas  dan aku dapat hadiah ni dari orang tua aku, aku dapet motor dan seperangkatnya. Jadi, pas kelas 3 serba baru ditambah statusnya waktu itu kakak tingkat hihi.
Jadi, waktu itu aku pergi kesekolah dan tepat jam setengah 7 udah sampai disekolah, sebelum sampai sekolah itu ada halte bis untuk tempat siswa-siswi duduk nungguin jemputan atau hanya sekedar duduk saja, saat itu aku datang halte bis didudukin oleh perempuan dan beberapa anak cowok waktu itu aku nggak perhatikan berapa orang yang ada disitu, aku melintas tiba-tiba aku denger teriakan seperti mencaci (kebun binatang dan kalimat binasa lainnya yang keluar) untuk merendahkan harga diri. What the hell, aku pikir dia sedang mencaci anak cowok yang ada disamping nya, aku sempat menoleh dan perempuan itu menatap aku rupanya. Aku bingung dong saat itu, kalian bayangin aja wajah anak SMP lugu yang tiba-tiba diteriakin dilihat ternyata teriakan itu tertuju padanya, ekspresi nya datar banget.. iyaa saat itu aku nggak gubris, aku jalan aja dengan sedikit kebingungan sih dan sampai di parkiran motor sekolah, dan memang pada saat itu aku bodo amat sih soalnya aku juga belum pasti itu kemarahan tertujunya untuk siapa.
Keesokan harinya, aku datang dengan keadaan yang sama dengan jam yang sama tiba disekolah, iyaa lagi-lagi perempuan itu duduk disitu dan kembali meneriakin aku dengan kata-kata kasar seperti bukan pelajar yang dididik cara bicaranya pada umumnya. Iyaa kalau kata kasar untuk candaan, it’s no problem lah yaa, kalau tiba-tiba diteriakin tanpa kata pengantar dulu yaa siapa sihh yang gak bingung mungkin dari kalian bakalan berhenti dan ngomong langsung sama dia. Tapi, itulah keadaan polos aku waktu SMP aku gak berani untuk mengganggu kemarahan orang, dan yang terjadi aku tetap diam, dan malah cacian itu berlangsung setiap hari kecuali hari minggu atau hari libur karena dia teriakin aku begitu setiap kali aku berangkat dan tiba disekolah dan dia selalu setia stay di halte itu buat ngucapin selamat pagi yang kurang sopan untuk aku wkwkwk yaa keadaan ini berlangsung selama 6 bulanan lah atau satu semester. Dari keadaan kayak gitu, siapa sih yang tahan? Siapa? Aku gak tahan lah aku lapor sama guru BK (Bimbingan Konseling) dan ternyata guru juga gak tau harus buat apa, coba bayangin guru aja nggak tau. Iyaa sih, masalahnya disini dia itu siswi SMA tetangga sekolahku, makanya guru juga bingung berurusannya gimana tapi, ya gak musti bingung sih kalau benar-benar mau jadi guru. Hmm kesal aja saat itu..
Terus, guru udah nggak bisa bantu dan aku hanya tersiksa sama ucapan yang udah kayak sarapan aku setiap pagi, aku juga gak berani ngomong sama orang tua aku, karena aku takut masalahnya jadi besar. Jadinya aku hanya diam, dengan keadaan berat dan takut aku pergi kesekolah, aku diamin aja terus. Nah, kemungkinan dia capek dan benar-benar capek karena di diamin juga oleh aku. Suatu ketika, aku bertemu dia dijalan, dan dia berhentikan aku (udah kayak polisi yang mau rajia aja ya) yaudah nurut lah aku, terus aku tanya dengan bodohnya kayak gak punya masalah sama sekali, aku tanya “kenapa kak?” dia menjawab dengan muka yang sangat sangat marah, wtf bisanya lihat aku mau meledak marah yaa “kau tau nggak kenapa aku caci maki kau terus?”.. nah, ini ni yang aku tunggu supaya aku tau dimana kesalahan aku, tapi tetap aja aku ketakutan. Aku jawab “nggak kak, kenapa?” terus dia langsung jawab “aku nggak suka lihat muka kau, coba kau senyum sedikit jadi orang, muka kau tu kayak benci sama orang!” *krikrik* Damn.. hanya ini dia rela caci maki aku setiap pagi, selama 6 bulan. Kok aku nggak sadar kalau aku gak pernah senyum haha. Yaudah aku jawab “maafin aku kak” and then dia pergi tanpa sepatah kata pun.
Dari semenjak kejadian itu, setiap kali aku ketemu dia aku selalu tersenyum tapi, gak pernah dibalas haha udah kayak dosen aku aja.. setelah aku masuk SMA aku udah nggak pernah ketemu dia, meskipun dia satu kampung dengan aku, karena aku sekolahnya dikota ceritanya.
Singkat cerita, pas aku mau masuk kuliah aku dengar kabar kalau dia akan nikah dia nggak kuliah padahal dia anak orang yang berada mama nya bilang dia nggak ngelanjutin kuliahnya karena dia setiap malam ditemui jalan dengan pacarnya dan pacarannya aneh-aneh gitu di hutan wkwk, terus nikahannya dia ngundang keluarga aku yaa aku ikut, aku salaman aku beri ucapan selamat. Aku nggak pernah berharap ada balasan apapun, aku bukan tipe pendendam atau pembenci yang berlarut tapi aku akan selalu ingat apa yang udah dia perbuat hihi.
Yaa setelah berapa tahun pernikahannya dia belum punya anak, suaminya punya penyakit yaa dibilang cukup ekstrim. Aku dengar itu semua dari orang tuaku. Aku kasian karena suaminya juga belum punya pekerjaan tetap. Hmm.. setiap aku pulang liburan kuliah aku selalu ketemu dia dan kelihatan dia malu dan seperti buang muka. Yahh.. biar gimanapun dia yang udah nyadarkan aku buat tetap jaga muka supaya jangan sampai membuat orang salah paham. Iya, banyak deh kesulitan yang dialaminnya sekarang dan sampai buat aku Thanks God udah nunjukin ini semua, aku lega rasa sakit aku dulu sudah Tuhan lihatkan saat ini (meskipun agak lama) ya itu aku bilang aku nggak berharap apapun balasan untuknya..
Iyaa dari cerita singkat ini, aku Cuma mau beri pesan. Meskipun, kalian mempunyai keadaan yang sulit untuk tersenyum berhati-hatilah dengan orang yang ada disekitar kalian yang belum mengenal kalian, tidak semua orang punya sifat yang bodo amat, sebagian orang ada yang hatinya sensitif sekali dengan prilaku orang lain, kalau kalian tidak mengenalnya coba untuk sadar bagaimana caranya supaya orang tidak salah paham dengan keadaan muka kalian, jangan sampai double menyakiti perasaan orang, perasaannya dan juga hidupnya karena dosanya. Sekian, terimakasih sudah membaca :)
Aku bakalan bagi pengalaman cerita lainnya di next blog, semoga bisa menjadikan pelajaran....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar